Selasa, 21 Oktober 2008

LAPORAN TEKNIS PENDAKIAN 2

Setapak demi setapak jalan kami lewati hingga tanpa terasa kami telah berjalan selama kurang lebih tiga setengah jam, akhirnya kami tiba di air terjun panas. Kembali kami beristirahat. Perjalanan kami kali ini memang santai, karena kami berencana untuk kemping selama 4 hari. Jadi, kami tidak memaksakan apabila ada rekan kami yang ingin beristirahat sejenak dalam perjalanan. Sambil menunggu masakan yang sedang dimasak, kami mandi dan berendam di aliran sungai hangat yang ada di sebelah air terjun panas. Kemudian kami beristirahat sambil menyantap hidangan siang buatan rekan kami, yaitu Nasi Goreng Sapi Sial.

Perjalanan kami lanjutkan untuk menuju pos selanjutnya, yaitu “Kandang Badak”. Dan kurang lebih satu jam kemudian kami tiba di sana. Karena kelelahan, kami memutuskan untuk beristirahat dan berkemah di sana. Kandang Badak saat itu sangat ramai dan hampir di penuhi oleh para pendaki. Bagai sebuah Reuni, para pendaki dari seluruh Indonesia tampaknya berkumpul semua di sini. Di Kandang Badak kami mencoba Rumah Baru kami. Tenda yang kami bawa adalah milik salah seorang rekan kami. Tendanya sangat luas untuk kami yang hanya membawa 9 orang dalam perjalanan kali ini. Kami leluasa untuk bermain kartu, memasak atau untuk sekedar merebahkan tubuh yang lelah karena perjalanan panjang yang kami tempuh seharian.

Setelah melewati malam dingin di Payancangan, kami bersiap untuk menghadapi dinginnya malam di Kandang Badak dengan menyiapkan minuman – minuman penghangat tubuh. Namun diluar dugaan, malam di Kandang Badak saat itu sangatlah tenang dan hangat. Mungkin karena terdapat banyak pendaki di tempat itu sehingga kehangatan dari tubuh kami masing – masing terpancar dan menghangatkan suasana malam saat itu. Serupa dengan bubur kacang hijau yang biasa kami buat pada saat kemping ditambah taburan ribuan bintang yang masih dapat terlihat meski dengan mata telanjang.

Di tengah suasana nyaman itu, masalah yang sebenarnya akhirnya muncul ke permukaan. Yaitu “Apakah Tujuan Kita Masih Harus Ke Pangrango?”. Itulah permasalahan yang kami hadapi saat itu, ditambah dengan keharusan bagi rekan kami untuk bekerja pada hari dimana seharusnya kami masih bersenang – senang di Kawasan Taman Nasional Gede Pangrango ( bagi yang tidak mengerti, maksud kata – kata di atas adalah waktu kemping kita yang seharusnya 4 hari harus diperpendek menjadi 3 hari ). Masalah kami lemparkan kepada forum untuk memutuskan. Esok paginya, keputusan pun dibuat. Dan dengan pertimbangan bahwa kondisi para pemain utama kurang begitu fit, dan dengan berbagai pertimbangan lainnya, kami memutuskan untuk membatalkan rencana kami untuk pergi ke Pangrango dan merubah tujuan kami menjadi Puncak Gede. Sebuah keputusan yang penuh kebijaksanaan ( setidaknya menurut penulis ).

Minggu, 19 Oktober 2008

LAPORAN TEKNIS PENDAKIAN

LAPORAN TEKNIS PENDAKIAN
GEDE PANGRANGO 09 OKTOBER 2008

Oleh : jaya mahendra

Management Adventure Club. Perjalanan dengan 8 orang pemuda. Satu persatu kami berkumpul di tempat yang telah dijanjikan. Dan seperti biasa, yang tiba tepat waktu adalah orang yang sama seperti setiap perjalanan kami. Dan yang terlambat juga adalah orang yang sama. Sebuah budaya yang mungkin tidak dapat dirubah. Itulah yang harus kami pahami satu sama lain.

Diluar dugaan, anggota kami bertambah satu orang. Seorang wanita. Aku tidak terkejut sama sekali, sebab orang yang membawanya adalah seseorang yang selalu membuat kejutan. Tahun lalu aku dibuat terkejut setelah tahu bahwa dia mengajak segambreng wanita dalam pendakian. Tidak ironis.

Tujuan kami kali ini adalah Gunung Pangrango yang merupakan bagian dari Taman Nasional Gede Pangrango. Dengan perbekalan lengkap, “Rumah baru”, 9 personil ( 6 orang pemula, dan 3 orang lebih pemula ) kami berangkat dari “Shadow Terminal” lampu merah Cengkareng. Adapun rute perjalanan yang kami tempuh adalah melewati Ciawi untuk kemudian langsung menuju Cibodas dengan carteran mobil.

Kami berangkat dari Cengkareng kurang lebih pukul lima sore dengan menumpang bus Pandu Jaya jurusan Cengkareng – Sukabumi. Ongkos Rp. 12.000/ orang sampai Ciawi. Dan setibanya di Ciawi kira – kira pukul delapan malam. Alhamdulillah perjalanan menuju Ciawi sangat lancar. Tiba di Terminal Bayangan Ciawi, kami istirahat sejenak untuk memakan gorengan. Isi perut agar tidak terkena penyakit Tifus. Setelah cukup beristirahat, kami melanjutkan perjalanan dengan carteran mobil dengan biaya nego Rp. 100.000,- sampai di depan pos masuk Kawasan Wisata Cibodas.

Setibanya di Kawasan Wisata Cibodas, kembali kami beristirahat sambil membeli perlangkapan bagi rekan kami di Counter Avtech (adventure Technology). Tak lama kemudian kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan sampai Payancangan untuk kemudian bermalam di sana. Namun sebelum itu, kami kembali beristirahat untuk memasak dan mengisi perut yang “keroncongan” bercampur “jazz”. Kami sadar bahwa mengisi tenaga sangatlah diperlukan mengingat tujuan kami kali ini diperkirakan akan sulit disamping untuk mencegah penyakit Maag, panu, kadas, juga kurap. Waktu tempuh kami dari pos pemeriksaan sampai Payancangan adalah kurang lebih satu jam. Cukup santai.

Setelah melewati malam yang sangat dingin di Payancangan, kami bangun untuk menyiapkan sarapan sebelum melanjutkan perjalanan. Koki kepala kami adalah Sandy. Karyawan Carrefour yang biasa dan selalu menjadi andalan dalam urusan masak memasak dalam setiap perjalanan kami.