Setapak demi setapak jalan kami lewati hingga tanpa terasa kami telah berjalan selama kurang lebih tiga setengah jam, akhirnya kami tiba di air terjun panas. Kembali kami beristirahat. Perjalanan kami kali ini memang santai, karena kami berencana untuk kemping selama 4 hari. Jadi, kami tidak memaksakan apabila ada rekan kami yang ingin beristirahat sejenak dalam perjalanan. Sambil menunggu masakan yang sedang dimasak, kami mandi dan berendam di aliran sungai hangat yang ada di sebelah air terjun panas. Kemudian kami beristirahat sambil menyantap hidangan siang buatan rekan kami, yaitu Nasi Goreng Sapi Sial.
Perjalanan kami lanjutkan untuk menuju pos selanjutnya, yaitu “Kandang Badak”. Dan kurang lebih satu jam kemudian kami tiba di sana. Karena kelelahan, kami memutuskan untuk beristirahat dan berkemah di sana. Kandang Badak saat itu sangat ramai dan hampir di penuhi oleh para pendaki. Bagai sebuah Reuni, para pendaki dari seluruh Indonesia tampaknya berkumpul semua di sini. Di Kandang Badak kami mencoba Rumah Baru kami. Tenda yang kami bawa adalah milik salah seorang rekan kami. Tendanya sangat luas untuk kami yang hanya membawa 9 orang dalam perjalanan kali ini. Kami leluasa untuk bermain kartu, memasak atau untuk sekedar merebahkan tubuh yang lelah karena perjalanan panjang yang kami tempuh seharian.
Di tengah suasana nyaman itu, masalah yang sebenarnya akhirnya muncul ke permukaan. Yaitu “Apakah Tujuan Kita Masih Harus Ke Pangrango?”. Itulah permasalahan yang kami hadapi saat itu, ditambah dengan keharusan bagi rekan kami untuk bekerja pada hari dimana seharusnya kami masih bersenang – senang di Kawasan Taman Nasional Gede Pangrango ( bagi yang tidak mengerti, maksud kata – kata di atas adalah waktu kemping kita yang seharusnya 4 hari harus diperpendek menjadi 3 hari ). Masalah kami lemparkan kepada forum untuk memutuskan. Esok paginya, keputusan pun dibuat. Dan dengan pertimbangan bahwa kondisi para pemain utama kurang begitu fit, dan dengan berbagai pertimbangan lainnya, kami memutuskan untuk membatalkan rencana kami untuk pergi ke Pangrango dan merubah tujuan kami menjadi Puncak Gede. Sebuah keputusan yang penuh kebijaksanaan ( setidaknya menurut penulis ).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar